Pendampingan TNI Perkuat Distribusi Bibit Tebu Varietas Bulu Lawang Sumbergayam

TRENGGALEK – Program ketahanan pangan nasional kembali mendapat dukungan penuh dari aparat teritorial melalui pendampingan distribusi bibit tebu varietas Bulu Lawang di Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan. Babinsa Sumbergayam Pelda Sunarman turut mengawasi jalannya pendistribusian kepada Poktan Sumber Rejeki sebagai upaya memperkuat produktivitas pertanian tebu wilayah selatan Jawa Timur.

Suasana desa tampak lebih hidup ketika truk bantuan dari Dispertapan Trenggalek tiba membawa bibit siap tanam. Warga bersama aparat TNI langsung melakukan penurunan dan pengelompokan bibit. Kehadiran personel teritorial memastikan seluruh tahapan pendistribusian berjalan tertib, sesuai rencana tanam, serta tepat sasaran bagi penerima manfaat.

Pelda Sunarman terlibat aktif sejak awal kegiatan. Ia turut membantu proses bongkar muat sembari berdiskusi dengan petani terkait teknik tanam dan penataan lahan. Ia menegaskan bahwa pendampingan ini merupakan bagian dari tugas pembinaan wilayah. “Ini wujud dukungan kami kepada petani untuk meningkatkan produksi. Program swasembada gula membutuhkan kolaborasi nyata di tingkat lapangan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa tebu memiliki nilai strategis tidak hanya sebagai komoditas pangan, melainkan pendorong ekonomi lokal. Kecamatan Durenan dikenal sebagai salah satu kawasan potensial untuk budidaya tebu. Dengan pengelolaan tepat, sektor ini diharapkan memberikan efek penguatan ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan efisiensi produksi.

Dari pihak Dispertapan Trenggalek, petugas perkebunan Renata mengatakan Desa Sumbergayam memiliki karakteristik lahan ideal untuk varian Bulu Lawang. Pemilihan kelompok tani penerima bantuan didasarkan pada kesiapan dan potensi lahan. “Kami berharap bantuan ini memberikan hasil optimal. Kolaborasi dengan TNI menjadi faktor penting bagi keberhasilan program,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Renata juga menjelaskan bahwa varietas Bulu Lawang dipilih karena produktivitasnya tinggi serta mampu beradaptasi di lahan kering. Pemerintah menargetkan komoditas ini dapat meningkatkan rendemen sekaligus memperkuat suplai bahan baku industri gula. Dengan dukungan berkelanjutan, ketergantungan nasional terhadap gula impor diharapkan terus menurun secara bertahap.

Di area pendistribusian, gotong royong tampak terjalin kuat antara petani, warga, serta aparat TNI dan Polri. Para petani menyortir bibit sesuai kebutuhan masing-masing, sementara pemuda desa turut membantu pemindahan. Soliditas sosial ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas serta menumbuhkan kemandirian desa menuju peningkatan produksi.

Sejumlah petani mengaku lebih tenang dengan kehadiran Babinsa yang memberikan pengawalan. Pendampingan ini membuat distribusi lebih teratur dan mempermudah persiapan lahan menjelang masa tanam. Kedekatan aparat dengan masyarakat juga memperkuat hubungan kemitraan yang selama ini terjalin baik di wilayah pedesaan.

Pemerintah daerah bersama aparat teritorial memastikan pengawasan berlanjut dari tahap distribusi hingga masa panen. Dengan pendampingan teknis dan monitoring rutin, produktivitas tebu Desa Sumbergayam diproyeksikan meningkat signifikan dalam satu hingga dua musim tanam mendatang untuk mendukung penguatan ekonomi wilayah.

Kegiatan pendistribusian bibit tebu di Sumbergayam menjadi bukti sinergi TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa. Harapan ke depan, kolaborasi lintas sektor ini dapat melahirkan sentra tebu yang lebih mandiri, produktif, dan mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat.