PONOROGO – Bencana kebakaran hutan Gunung Sadranan yang berlokasi di wilayah Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, berhasil diatasi dengan cepat. Aksi sigap aparat gabungan yang dimotori oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 0802/10 Slahung, Serka Komari Rudiyanto, bersama masyarakat setempat berhasil mencegah api meluas pada Kamis (24/06/2026).
Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Ponorogo selama beberapa bulan terakhir menjadi pemicu utama tingginya kerawanan lingkungan. Kondisi cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan lahan hutan yang mayoritas ditumbuhi tegakan pohon Alba dan ilalang mengering secara drastis, sehingga sangat rentan memicu munculnya titik api.
Menyikapi kondisi alam yang rawan tersebut, tingkat kewaspadaan komponen masyarakat di Kecamatan Slahung terus ditingkatkan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Upaya pemantauan ini terbukti efektif ketika pada pukul 09.30 WIB kepulan asap terpantau di area ketinggian Gunung Sadranan yang mengindikasikan awal mula terjadinya kebakaran.
Tanpa menunggu waktu lama, personel TNI bersama Kepolisian, instansi terkait, dan warga Desa Broto segera terjun langsung ke lokasi kejadian. Mereka bahu-membahu menembus medan perbukitan untuk menjinakkan si jago merah yang mulai membakar kawasan area lahan milik Perhutani Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Slahung.
Tercatat, sekitar satu hektare lahan yang terdiri dari pohon tegakan Alba dan semak belukar ilalang sempat tersapu api. Area kebakaran tersebut terpantau berada tepat pada titik koordinat 8.025252018S-111.4009991E.
Strategi awal yang diterapkan dalam upaya pemadaman ini adalah melokalisir area kebakaran hutan Gunung Sadranan agar rambatan api terputus. Tim gabungan bergegas membuat sekat bakar atau jalur pemisah di antara tumbuhan belukar alang-alang yang sangat mudah terbakar agar api tidak menjalar ke area produktif lainnya.
Setelah titik api berhasil dikepung dan dilokalisir, proses pemadaman dilanjutkan secara terkoordinir dengan memanfaatkan peralatan tradisional yang tersedia di sekitar hutan. Berkat kekompakan tim di lapangan, api perlahan dapat dijinakkan.
Ditemui seusai memimpin proses pemadaman, Serka Komari Rudiyanto memaparkan kondisi kerawanan di wilayah binaannya.
“Saat musim kemarau seperti ini memang rentan kebakaran hutan di wilayah kami. Maklum tanaman perdu di bawah pohon-pohon Alba milik Perhutani RPH Slahung ini berupa alang-alang yang mudah terbakar,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sinergitas antarinstansi dan masyarakat adalah kunci utama kesiapsiagaan mereka di daerah rawan bencana.
“Menyadari kondisi seperti ini, kami bersama Bhabinkamtibmas, Petugas Perhutani, dan warga masyarakat Desa Broto telah siap mengatasi kebakaran hutan agar tidak meluas,” tambahnya.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai metode penanganan darurat yang dilakukan, Babinsa Desa Broto tersebut menekankan pentingnya respons informasi yang cepat.
“Kuncinya adalah koordinasi, siapapun di antara kami komponen masyarakat Desa Broto bila melihat kebakaran hutan segera menyampaikan di grup-grup komunikasi,” jelas Serka Komari.
Lebih lanjut, ia menerangkan detail eksekusi pemadaman bersama masyarakat di lapangan. “Selanjutnya dilaksanakan pemadaman lahan hutan yang terbakar secara terkoordinir. Menggunakan peralatan tradisional yang tersedia di alam hutan, kita lokalisir potensi kebakaran, lalu dengan hati-hati kami padamkan api,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, berkat gerak cepat aparat keamanan bersama dua orang petugas Perhutani dan warga setempat, kebakaran hutan Gunung Sadranan berhasil dipadamkan secara total pada pukul 11.30 WIB. Ke depannya, diharapkan sinergitas tanggap darurat yang telah terjalin kokoh ini dapat terus dipertahankan demi menjaga kelestarian ekosistem alam, sekaligus menumbuhkan kesadaran dan kepedulian kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan dari ancaman bencana.